Friday, August 10, 2012

Ciri-Ciri Orang Bertaqwa

Kata taqwa begitu penting dalam kehidupan. Sebab ketaqwaan adalah benteng terhadap setiap aktivitas dan gerak yang kita lakukan. Tanpa adanya ketaqwaan, kita akan menjadi liar dan buas, bagaikan binatang yang hidup di hutan.
Lalu ketaqwaan yang bagaimana yang menjadi pengendali, agar kehidupan kita lebih berarti?
ALLAH SWT berfirman:
"Dan bersegeralah kamu pada ampunan dari Tuhan-mu, dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa." (QS. Ali 'Imron : 133)
Siapakah orang-orang yang bertaqwa itu?
Ayat 134 dan 135 dalam surat yang sama ALLAH SWT memberikan jawaban:
"(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. ALLAH menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan ALLAH, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada ALLAH? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka Mengetahui."
Melalui firman ALLAH tersebut di atas, dapat dikemukakan, beberapa ciri-ciri orang bertaqwa, yang harus kita perjuangkan dalam kehidupan:
Kondisi ekonomi dan keuangan biasanya mengalami fluktuasi, turun naik, kadang baik, kadang buruk, dan tidak selamanya bagus. Bagi orang yang bertaqwa, dalam kondisi apa pun juga, menafkahkan sebagian rizki, untuk kemaslahatan, adalah suatu kebutuhan tersendiri. Dia akan selalu ingin & selalu bahagia untuk menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun di waktu sempit.
Seorang hamba ALLAH yang bertaqwa, tidak mungkin akan ditunggangi oleh uang atau harta. Sebaliknya, uang atau hartalah yang dijadikan alat atau tunggangan orang yang bertaqwa, dalam mencapai tujuan yang mulia. Orang bertaqwa sadar betul akan nasehat al-Quran dalam surat al-An’am ayat 32 yang menyatakan:
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka Tidakkah kamu memahaminya?"
Kedua - Menahan Amarah
Sebagai manusia biasa terkadang merasa dikecewakan oleh keadaan, atau bahkan oleh sahabat sendiri. Kita bisa marah besar karena maksud yang tak sampai atau karena merasa martabat kita dilecehkan atau dinistakan. Banyak sebab yang menyulut kemarahan. Hanya saja, sebagai orang yang bertaqwa harus berusaha meredam kemarahan, agar tidak meledak dan membakar suasana, bahkan bisa merugikan.
Orang bertaqwa bukannya tidak bisa marah. Pasti sesekali orang bertaqwa juga dapat marah, bahkan sangat marah. Namun kemarahan orang bertaqwa Insya ALLAH tidak sampai kalap, yang menyebabkan mata gelap dengan meninggalkan pertimbangan akal sehat.
Ketiga - Pandai Memaafkan Kesalahan Orang Lain
Sebagai orang yang bertaqwa kita tidak boleh menyimpan dendam kesumat tanpa akhir pada orang lain, disebabkan seseorang pernah berbuat salah pada kita, baik sengaja atau tidak. Orang yang baik (muhsin) adalah orang yang pandai mengendalikan amarah dan lapang dada, serta mudah memaafkan kesalahan.
Ketahuilah dendam dan rasa dengki, bila terus dipelihara akan menjadi penyakit rohani, yang sulit diobati. Penyakit ini akan menguras stabilitas mental dan psikologi. Dengan demikian bila marah, diikuti dengan rasa dendam di hati, kemudian diperkuat dengan sifat iri dan dengki, jika tidak cepat-cepat dijauhi, maka hidup kita akan terasa sumpek, pengap bahkan menyiksa diri sendiri. Itulah sebabnya, surga yang indah disediakan buat orang-orang yang bertaqwa, yakni siapa saja diantara kita yang tidak gampang marah dan mudah memaafkan kesalahan orang lain.
Keempat - Segera Bangkit dan Bertaubat
Orang bertaqwa mungkin saja dalam rentang kehidupan pernah tergelincir ke lembah dosa dan kemaksiatan. Namun begitu tepeleset melakukan dosa yang menjijikan kita segera bangkit memohon ampun dan beristighfar ke pada Tuhan.
Jadi, sangat berbeda tajam antara orang bertaqwa dengan orang yang tidak bertaqwa. Orang yang tidak bertaqwa, yang tidak mendapat hidayah atau bimbingan Tuhan, biasanya, cenderung mencandu dalam lembah dosa dan kemaksiatan. Sebagai contoh; orang yang sudah kecanduan judi, tidak mudah dipisahkan dari tarikan judi yang semakin mendarah-daging. Kadang kala penjudi rela jatuh pailit, kalau perlu, ludes seluruh harta serta rumahnya yang luar biasa, bahkan tanpa menyesal, sekalipun terbenam dalam perangkap judi yang telah menghancurkan tatanan kehidupan.
Atau orang yang hidup dari “menternakan” uang, lewat riba yang berlipat ganda. Meskipun “bekerja” sebagai lintah darat sama sekali tidak terhormat, bahkan dikutuk oleh masyarakat, orang yang sudah menikmati dunia riba dan perlintah-daratan, tidak akan mudah meninggalkan kebiasaan, yang telah dijadikan mata pencaharian.
Atau orang yang mengumbar kebebasan seksual, yang diistilahkan zaman sekarang sebagai "womanizer". Orang semacam ini juga tidak akan pernah puas dengan berbagai eksprimen untuk memenuhi nafsu syahwat yang serakah. Tanpa sinar terang dari ALLAH, sangat sulit, untuk dapat membebaskan diri dari perangkap syahwat, yang tiada bertepi.
Di sinilah, betapa al-Quran sangat tepat menggambarkan ciri-ciri sekaligus watak kita sebagai orang yang bertaqwa. Yaitu bila tergelincir ke jeratan dosa, kita insya ALLAH akan segera melepaskan diri dan kembali kepada petunjuk Ilahi. Dan yang paling penting adalah segera melakukan pertobatan untuk tidak mengulangi kemaksiatan yang telah terlanjur dilakukan.
Terakhir, marilah kita selalu berserah diri, agar hidup yang kita lalui dan Ramadhan yang sedang kita jalani, diberkahi dan mendapat ridha di sisi Ilahi.
Selamat menunaikan ibadah shaum, perbanyak istighfar & amal sholih. Semoga kita senantiasa berada dalam lindungan ALLAH ta'ala. Amien...
Billaahi Fii Sabiilil Haq, Fastabiqul Khairaat...
Wassalaamu'alaikum wr. wb.

2 comments:

  1. Berusaha mejauhi larangan Allah itu kadang sulit buat saya Pak, tapi saya mau berusaha agar tidak terjerat perbuatan maksiat.. Bismillah

    Makasih infonya Pak, Jazakumullah Khoiron..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oleh karena itu jalan yang lurus (benar) seringkali diibaratkan, "bagai melangkah di atas pedang atau di atas helai rambut yang dibelah tujuh" ya sob...
      Afwan wa Jazaakumullaah Biahsaanil Jazaa...

      Delete